|
Atasi Masalah HIV/AIDS Lewat Jalur Pendidikan |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Friday, 22 June 2007 |
JAKARTA, Epidemi HIV/AIDS makin meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan melanda kaum muda. Untuk mencegah penyebaran virus penyakit mematikan, maka sosialisasi mengenai HIV/AIDS perlu dilakukan di sekolah tingkat dasar maupun tinggi.
"Penularan HIV/AIDS kebanyakan lewat penggunaan jarum suntik bergantian ketika mengonsumsi narkoba, dan berhubungan seks tidak aman," kata Asisten Deputi Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Inang Winarso, dalam workshop" HIV/AIDS dalam Kurikulum Sekolah", di Gedung Departemen Pendidikan Nasional, Rabu (20/6), di Jakarta.
Untuk itu, perlu ada strategi yang efektif dalam penanggulangan HIV/AIDS dengan melibatkan pihak sekolah. "Jadi materi penyuluhan tentang bahaya HIV/AIDS dan cara pencegahannya bisa dilakukan dalam kegiatan ekstra kurikuler, tidak perlu dimasukkan dalam kurikulum atau pendidikan formal," kata Winarso.
Sosialisasi HIV/AIDS juga bisa dijalankan dengan melibatkan kelompok sebaya (peer group). Jadi, tiap sekolah dibentuk kelompok relawan yang dilatih untuk memberikan penyadaran pada teman sebaya mereka di sekolah mengenai gayah hidup sehat dan bagaimana mencegah HIV/AIDS. "Ini lebih efektif," ujarnya.
Sementara Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Fasli Jalal, menyatakan sosialisasi mengenai HIV/AIDS bisa disisipkan dalam mata pelajaran yang ada seperti Biologi dan Kesehatan Jasmani. "Ini bisa digabung dalam materi kesehatan reproduksi dengan memakai modul tersendiri," ujarnya.
"Semula informasi HIV/AIDS hanya diberikan pada siswa sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Tetapi ternyata penularan HIV/AIDS telah terjadi pada kelompok usia yang lebih muda," kata Fasli. Karena itu, sasaran sosialisasi mengenai masalah HIV/AIDS diperluas hingga pada siswa sekolah menengah pertama.
Namun, pengamat pendidikan Arief Rachman mengingatkan agar sosialisasi informasi HIV/AIDS tidak hanya dibebankan pada guru dan sekolah. "Selama ini setiap ada masalah di luar, maka penyelesaiannya dibebankan pada guru untuk menyampaikan pada siswa. Padahal, kemampuan guru dalam mengajar terbatas," tuturnya.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Monday, 28 July 2008 )
|