|
94% Rakyat Indonesia Depresi |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Thursday, 21 June 2007 |
JAKARTA — : Penyakit mental yang dialami bangsa Indonesia sudah memprihatinkan. Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ) menyebut 94% bangsa Indonesia mengalami depresi ringan hingga berat.
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Fachmi Idris seusai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Rabu (20/6). "Kondisi ini terlihat dengan banyaknya anggota masyarakat yang tidak lagi patuh pada peraturan. Ini semua adalah masalah kesehatan secara fisik, mental, dan sosial," ungkap Fachmi.
Karena itu, Fachmi menilai negara harus segera mengevaluasi dan segera menyiapkan program-program yang berorientasi kepada peningkatan kesehatan fisik, mental dan sosial rakyatnya.
Menurut Fachmi, negara harus semakin serius memandang bahwa peningkatan derajat kesehatan tidaklah hanya melalui upaya pengobatan fisik semata.
Ia menambahkan, kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada perubahan perilaku dan penataan lingkungan harus benar-benar dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Negara harus segera mencari sistem yang efektif agar terjadi akselerasi dalam proses perubahan perilaku dan penataan lingkungan.
"Harus ada sistem yang menjamin bahwa health promotion, health education, dan health approach dapat dilakukan secara personal, kepada setiap anggota masyarakat. Kalau sistem ini dapat diciptakan maka dokter yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan masyarakat, selain dapat mengintervensi kesehatan fisik, dapat pula mengintervensi kesehatan mental dan sosial masyarakat," jelas Fachmi.
Ia memaparkan, program kesehatan harus ditujukan pada perubahan perilaku dan penataan lingkungan. Program kesehatan yang ditujukan untuk merubah dan pemeliharaan perilaku memberikan kontribusi sekitar 50% untuk menyehatkan masyarakat. Program yang ditujukan merubah dan pemeliharaan lingkungan berkontribusi sekitar 20% untuk penyehatan masyarakat.
"Bandingkan dengan program kesehatan yang ditujukan untuk mengobati orang sakit, dalam bentuk maksimalisasi rumah sakit dan puskemas untuk pengobatan, hanya berkontribusi 10% untuk menyehatkan masyarakat," ungkap Fachmi.
Ia juga mengkritik dokter-dokter yang terjebak pada profesionalisme yang sempit. Banyak dokter yang akhirnya lebih banyak memahami bahwa kesehatan dan ilmu kedokteran hanyalah mempelajari segala sesuatu tentang penyakit. AKibatnya kewajiban untuk menyehatkan masyarakat hanya sekedar menganjurkan minum vitamin serta mengobati si sakit.
"Dokter lupa bahwa selain intervensi fisik, dokter harus berperan dalam intervensi mental dan sosial di tengah-tengah masyarakat," cetus Fachmi.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Monday, 28 July 2008 )
|