A free template from Joomlashack

A free template from Joomlashack

Polls

Pendapat Anda tentang Situs Kami
 

Syndicate

Who's Online

Saat ini ada 19 Jumlah tamu Yang online
Home
Multiple Sclerosis Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Peringkat Pengguna: / 0
JelekBaik 
Ditulis Oleh Administrator   
Thursday, 14 June 2007
Multiple Sclerosis
Tunda Cacat dengan Pengobatan Sedini Mungkin

Jakarta, - Jangan pernah menunda pengobatan setelah serangan pertama yang mengarah pada gejala penyakit multiple sclerosis (MS). Semakin dini pengobatan diberikan, risiko cacat akibat penyakit MS dapat ditunda untuk waktu yang cukup panjang. Demikian menurut hasil studi BENEFIT (Betaferon in newly emerging multiple sclerosis for initial treatment) yang telah dipresentasikan pada pertemuan American Academy of Neurology ke-59 di Boston, AS, beberapa waktu lalu.

Kepala Departemen Neurologi RSCM/FKUI Prof Dr Jusuf Misbach Sp.S(K) FAAN mengatakan, saat ini muncul paradigma baru pengobatan MS yang mengobati secara agresif begitu ada gejala. "Dahulu pengobatan diberikan setelah ada serangan dua kali berturut-turut pada saraf pusat atau pada saat MS telah didiagnosa secara pasti," katanya dalam acara Paparan Hasil Studi Terbaru Penyakit Multiple Sclerosis, di Jakarta (13/6).

Walaupun MS telah ditemukan sejak tahun 1870-an, namun hingga tahun 1990-an, pengobotan terhadap penyakit ini masih belum dikembangkan. Hingga waktu tersebut, dokter hanya mengobati gejala-gejala dari penyakit kronis ini. Baru sejak tahun 1995 dikembangkan Interferon beta-1b untuk mengobati bentuk kambuhan dari penyakit MS dan mengurangi memburuknya penyakit MS secara klinis.

MS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus atau infeksi pada pusat saraf dan bermuara pada kecacatan. Diperkirakan karena kelainan autoimun, artinya sistem kekebalan diri sendiri menyerang jaringan sehat manusia. Jika ini terjadi, myelin, selaput pelindung yang mengelilingi serabut saraf dari CNS (central nervous system), dihancurkan dan digantikan oleh jaringan parut. Secara keseluruhan, kerusakan ini mengganggu proses pengiriman pesan antara otak, pusat saraf di tulang belakang, dan saraf mata sehingga menyebabkan terjadinya gejala MS.

Menurut Miscbach, gejala yang patut dicurigai sebagai penyakit MS adalah gejala saraf yang berfluktuasi. "Setelah serangan pertama, serangannya bisa muncul kembali dalam waktu lama, misalnya penglihatan pada mata kanan buram, kemudian pindah pada mata kiri sebulan, setahun atau 10 tahun kemudian,"ucapnya. Gejala klinis lain yang perlu diwaspadai antara lain merasa lelah berlebihan, penglihatan buram, kesulitan berjalan karena kaki lemas, merasa kebal atau kesemutan pada wajah, lengan, kaki, dan mati rasa di sekitar kening,

Pengobatan MS terdiri dari pengobatan jangka pendek dengan steroid untuk mengatasi gejala akut, pengobatan simtomatik untuk menghilangkan gejala-gejala seperti nyeri, kesemutan dan kekakuan, serta pengobatan yang memodifikasi perjalanan penyakit dan mencegah perkembangan penyakit, seperti interferon beta-1b.

Di banyak negara, interferon beta-1b memang yang paling banyak dipakai untuk mengurangi penyakit MS pada tingkat dini maupun berat pada stadium lanjut. Sayangnya obat yang diberikan dalam bentuk injeksi ini masih tergolong mahal. Untuk satu paket interferon beta yang bisa digunakan selama satu bulan, pasien harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 10 juta dan pengobatan harus terus diberikan minimal selama 2 tahun. Efek samping dari obat ini antara lain limphopenia (penurunan atau kehilangan limfosit), lesu, pusing, gejala mirip flu dan nyeri.

Terakhir diperbaharui ( Monday, 28 July 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Joomla Templates by Joomlashack