|
Home
|
Mengenal Penyakit Multiple Sclerosis |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Thursday, 14 June 2007 |
Penyakit Multiple Sclerosis mungkin kurang begitu dikenal di Indonesia, bahkan di Asia, karena menurut data, penyakit ini lebih sering menyerang orang-orang dari ras Kaukasia. Tetapi dalam dua tahun terakhir pasien penyakit ini mulai bermunculan di Indonesia, salah satu pasiennya adalah komedian Ferrasta "Pepeng" Soebardi.
Multiple Sclerosis (MS) adalah suatu penyakit kronis yang tidak dapat diobati, serta mengakibatkan kecacatan jangka panjang. Penyebab pasti penyakit ini sampai saat ini belum dapat diketahui. Diperkirakan karena gangguan autoimun, yang berarti sistem imun tubuh diri seseorang menyerang sel sehat dan jaringan tisu.
Jika ini terjadi, myelin, selaput pelindung yang mengelilingi serabut saraf pada CNS (central neuron system) atau sel saraf pusat, dihancurkan dan digantikan jaringan parut. Kerusakan ini akan mengganggu proses pengiriman pesan antara otak, pusat saraf di tulang belakang, dan saraf mata, sehingga menyebabkan terjadinya gejala MS.
Sampai saat ini ilmu pengetahuan pun memang belum bisa mengungkap penyebab penyakit MS, namun penelitian menunjukkan beberapa faktor yang terlibat, di antaranya virus, kondisi geografis, dan genetik. Pada umumnya, MS menyerang lebih sering pada mereka yang berada di ketinggian jauh dari garis khatulistiwa, utamanya lebih banyak terjadi di kelompok Kuakasia, seperti di wilayah utara Eropa, selatan Australia dan bagian tengah Amerika Utara.
Jumlah penderita MS di Asia belum diketahui secara pasti, namun MS tidak jarang ditemukan di Indonesia dan di Asia. Diperkirakan ada 1-9 pasien di antara 100.000 orang. Angka ini dicurigai lebih tinggi karena diagnosa yang kurang umum dan kekurangan akses fasilitas MRI dan ahli saraf.
Gejala
Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Syaraf Indonesia (PERDOSSI), Prof.Dr.Jusuf Misbach, Sp.S(K), gejala-gejala MS tidak dapat diduga dan bisa bervariasi dari satu orang ke orang lain. Gejala yang umum dialami antara lain; lelah berlebihan, penglihatan kabur pada satu atau kedua mata, kesulitan berjalan karena kaki lemas, mati rasa atau kesemutan pada wajah, lengan, kaki, bicara tidak jelas (gagap), kehilangan kemampuan kontrol kemih. Serangannya pun sering muncul dan tenggelam. Banyaknya variasi gejala inilah yang menyebabkan penyakit ini sulit untuk didiagnosa.
"Jika gejala kambuh setidaknya dua kali pada tempat yang berbeda, misalnya hari ini penglihatan kabur pada mata kiri, lalu sebulan kemudian pada mata kanan, sudah bisa dikategorikan sebagai MS," kata Misbach.
Namun untuk mendapatkan diagnosa yang lebih tepat, Misbach menyarankan seorang pasien menjalani tes saraf secara menyeluruh, diikuti dengan scan gambar resonansi magnetik (MRI) dan tes cairan otak. Sampai saat ini tes cairan otak belum bisa dilakukan di Indonesia, biasanya rumah sakit akan mengirimkan ke laboratorium di AS untuk diteliti lebih lanjut.
Pengobatan
MS biasanya menyerang orang pada usia produktif, dengan usia antara 20-40 tahun, dan menyerang wanita lebih banyak dua kali lipat dibandingkan pria. Beberapa di antara penderita MS mengalami lumpuh total, hidup di kursi roda, bahkan buta.
Karena belum diketahui pencetus penyakit ini, saat ini MS tidak dapat diobati, namun ada beberapa macam pengobatan yang tersedia. Menurut Misbach, terapi untuk MS terbagi menjadi dua kategori. Pertama, pengobatan jangka pendek untuk mengatasi gejala kekambuhan. Biasanya pasien akan diberikan steroid. Kedua, pengobatan modifikasi untuk membantu menurunkan jangka waktu serangan gejala. Terapi ini sekaligus untuk menurunkan akumulasi kecacatan. Obat yang dipakai untuk terapi modifikasi ini adalah beta interferon-1b, berupa injeksi.
Untuk mendapatkan hasil maksimal, terapi modifikasi harus dilakukan sedini mungkin dan berkesinambungan agar perkembangan penyakit MS bisa ditekan dan bertahan dari kecacatan. "Jika pasien mengikuti terapi ini saat kondisinya sudah cacat, maka cacatnya tidak bisa disembuhkan. Tapi paling tidak frekuensi kekambuhan berkurang, bahkan bisa tidak ada serangan sama sekali," tambah Miscbach.
Sayangnya, biaya yang dikeluarkan untuk sekali injeksi interferon-1b relatif mahal, mencapai 1,5 juta rupiah dan harus dilakukan secara kontinyu selama minimal dua tahun.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Monday, 28 July 2008 )
|
|