|
Untuk menghindari kerugian ekonomi akibat penyakit menular yang membahayakan 2,6 milyar warga kawasan Asia-Pasifik, APEC bersepakat untuk berinvestasi pada usaha-usaha menghadapi pandemi. Demikian hasil pertemuan para menteri kesehatan negara-negara anggota Asia-Pacific Economic Cooperation di Sidney, Australia, tanggal 6-8 Juni 2007 lalu.
Di samping keuntungan yang diberikan globalisasi dan integrasi ekonomi, penyebaran penyakit menularpun semakin cepat. Pandemi, khususnya pandemi influenza yang menyebar belakangan ini, ataupun penyakit-penyakit menular lain, memerlukan solidaritas, kerjasama dan koordinasi internasional secara efektif, melalui pertukaran informasi dan sumber daya yang transparan. Upaya kesiap-siagaan ini tentu saja sangat bergantung pada kerjasama dan koordinasi multisektor, yang bertitik tolak dari pertukaran informasi dan komunikasi risiko. Negara-negara anggota APEC juga harus saling membantu dalam peningkatan kemampuan untuk menghadapi pandemi.
Pada hari terakhir pertemuan (08/06/2007), ditetapkan APEC Functioning Economies in Times of Pandemic Guidelines, atau panduan pandemi agar fungsi ekonomi tetap dapat berjalan. Dalam panduan diterangkan mekanisme perencanaan dan kesiap-siagaan, komunikasi dan informasi, pelayanan umum dan pasokan vital, sistem keuangan dan pergerakan ekonomi dalam negeri maupun antar negara. Panduan juga menerangkan pendekatan komprehensif untuk mengelola dan mendukung perekonomian negara-negara APEC dan sektor usaha di saat terjadinya pandemi, mendorong investor dan konsumen untuk bisa bertahan dan mendukung perkembangan ekonomi pasca pandemi. Para peserta pertemuan menyadari bahwa ancaman terhadap keamanan kesehatan dapat muncul dalam berbagai bentuk, karenanya tidak hanya sektor kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Diharapkan, pengembangan infrastruktur dan teknologi dapat menangkal berbagai hal yang mungkin menimbulkan bencana kesehatan. Semangat investasi ini sejalan dengan tema Hari Kesehatan Dunia 2007 “Invest in health, build a safer future.” APEC memang mencoba mendukung dan bekerjasama dengan WHO untuk meningkatkan kesiapsiagaan global dalam menghadapi pandemi, termasuk menyokong Jejaring Global Surveilans Influenza (Global Influenza Surveillance Network) dengan penelaahan kembali terms of reference atau kerangka kerjanya, dan perbaikan mekanisme jejaringnya. APEC juga akan berupaya menerapkan International Health Regulations (2005) yang pelaksanaannya sepenuhnya akan dimulai pada tanggal 15 Juni 2007. Selain membicarakan upaya siap siaga menangkal pandemi atau ancaman kesehatan publik, yang memang menjadi pokok bahasan pertemuan para menteri kesehatan ke tiga kalinya ini, ke 21 negara APEC juga menunjukkan kepedulian yang sangat besar terhadap pengendalian HIV/AIDS dengan menyepakati penetapan Panduan untuk Menciptakan dan Mengupayakan Lingkungan Kerja bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) atau Guidelines for Creating an Enabling Environment for Employers to Implement Effective Workplace Practices for People Living with HIV/AIDS. Negara-negara yang bergabung dalam APEC adalah Amerika Serikat, Australia, Kanada, Chile, Cina, Filipina, Hongkong, Indonesia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Mexico, Selandia Baru, Papua Nugini, Peru, Rusia, Singapura, Taipei, Thailand, Vietnam. Jumlah penduduk di negara-negara ini mencapai sepertiga dari penduduk dunia, dan menghasilkan 50% dari GDP dunia. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan.
|