|
BANDUNG – PalangMerah Indonesia (PMI) Kota Bandung berencana menggunakan mekanisme baru penjualan darah. Mulai Juli mendatang,masyarakat Kota Bandung bisa mendapatkan darah PMI melalui sistem delivery service (SDS) atau pengantaran langsung ke pemesan.
Kepala Unit Pengelolaan Darah PMI Kota Bandung Chairul Amri menjelaskan, Kota Bandung merupakan kota pertama yang menerapkan sistem tersebut. Dengan mekanisme baru itu,PMI berharap dapat menyalurkan darah sesuai ketentuan kesehatan dari World Health Organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia.
”Nantinya, setiap pemesan harus membayar Rp130 ribu/ labu darah sebagai biaya Pengganti Pengelolaan Darah (PPD) dan tambahan Rp5 ribu untuk biaya transportasi,” kata Chairul kepada wartawan seusai jumpa pers Peringatan Hari Donor Darah Sedunia di Markas PMI Kota Bandung,Jln Aceh, kemarin.
Chairul menjelaskan,hingga kini 10 manajemen rumah sakit telah menyatakan sepakat bekerja sama untuk pengembangan sistem delivery service.Ke-10 RS tersebut, di antaranya, RS Muhammadiyah, RS Astanaanyar, RS Santo Yusuf,RS Ujungberung, AMC hospital,RS Al Islam, RS Rajawali, RS Kebonjati,RS Sariningsih,dam RS Hermina.
Lantaran ada kerja sama itu, lanjut dia, pihaknya tidak bisa melarang rumah sakit menerapkan tarif lebih tinggi dari harga PMI. Sebab menurut Chairul, Menteri Kesehatan justru menyerahkan penetapan biaya PPD sesuai ketentuan setiap direksi rumah sakit. ”Jadi sah-sah saja jika RS menerapkan biaya yang lebih tinggi.Tapi yang pasti, dengan SDS, profesionalitas yang ada selama ini terjadi bisa diperbaiki. Biasanya, orang yang datang meminta darah ke PMI itu keluarga pasien, bukan petugas kesehatan,”ungkap Chairul.
Di bagian lain, Chairul menyayangkan minimnya fasilitas bank darah di Kota Bandung.Padahal, bank darah merupakan tempat penyimpanan darah paling ideal. Di bank darah, darah yang mudah rusak bisa tetap berada dalam kondisi baik. ”Di Bandung, baru enam RS yang memiliki bank darah.Yaitu,RS Al Islam, St Borromeus, RSHS, Cibabat,Immanuel dan RS Dustira,” ujar dia. Ketua PMI Kota Bandung, Nadi Sastrakusumah mengungkapkan, PMI Kota Bandung masih terus mengalami defisit anggaran.
PMI hanya menerima pendapatan Rp13 miliar per tahun. Sedangkan, pengeluaran mencapai Rp20 miliar per tahun. Khusus untuk 2007, PMI Kota Bandung membutuhkan biaya tambahan Rp6 miliar untuk merenovasi bangunan seluas 3.500 m2. Untuk menutup kerugian, sambung dia,PMI Kota Bandung mendapatkan bantuan dari Pemkot Bandung.Nilainya mencapai Rp200 juta/tahun.
Sisanya, defisit anggaran tertutupi oleh pemasukan dari badan usaha dan dana abadi PMI. Nadi menambahkan, PMI Kota Bandung telah memasok darah ke 59 RS di wilayah Bandung Raya. Hingga Maret 2007, sudah ada sekitar 23.407 labu darah yang masuk. Dari seluruh darah yang masuk, sekitar 60% berasal dari pelayanan mobil unit PMI. ”Sisanya sekitar 40% berasal dari para pendonor darah yang mendonorkan darahnya langsung ke kantor PMI di Jln Aceh,” ungkap Nadi,di tempat sama.
|