A free template from Joomlashack

A free template from Joomlashack

Polls

Pendapat Anda tentang Situs Kami
 

Syndicate

Who's Online

Saat ini ada 2 Jumlah tamu Yang online
Home
Waspadai Gagal Jantung Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Peringkat Pengguna: / 0
JelekBaik 
Ditulis Oleh Administrator   
Friday, 08 June 2007
JAKARTA, - Gagal jantung bisa mengakibatkan kematian pada penderita segala jenis penyakit jantung, terutama orang berusia lanjut. Kondisi ini juga menurunkan kualitas hidup penderitanya lantaran menimbulkan ketidakmampuan secara fisik. Karena itu, gagal jantung dan penyebab penyakitnya harus dikenali sejak awal untuk dicegah dan ditatalaksana sedini mungkin.

Di Indonesia, prevalensi gagal jantung secara nasional belum ada. Sebagai gambaran, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 2006 di ruang rawat jalan dan inap didapat 3,23 persen kasus gagal jantung dari total 11.711 pasien. Di Amerika, tahun 1999 terdapat kenaikan kasus gagal jantung dari 577.000 menjadi 871.000.

“Penyakit gagal jantung merupakan sindrom dengan gejala unik sehingga diibaratkan bagai beberapa orang buta meraba seekor gajah dari berbagai sisi,” kata ahli jantung Lukman Hakim Makmun dari Divisi Kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), dalam jumpa pers, Kamis (7/6), di Jakarta.

Karena insiden dan prevalensi gagal jantung di Indonesia cukup tinggi yang disebabkan hampir semua penyakit jantung, lanjut Lukman, seharusnya gagal jantung dan penyebab penyakitnya harus sejak awal sudah dikenali untuk dicegah dan ditatalaksana sedini mungkin. Hal ini untuk menghindari penurunan kualitas hidup, mortalitas dan beban ekonomis tinggi.

Menurut Lukman, semua penyakit jantung seperti infark miokard, hipertensi dan kelainan katup jantung dapat berakhir menjadi gagal jantung sehingga disebut final common pathway. Angka kematian gagal jantung, terutama pada usia lebih dari 65 tahun, cukup tinggi. “Gagal jantung dapat mengakibatkan ketidakmampuan fisik secara kronik sehingga menjadi beban ekonomis yang tinggi,” tuturnya.

Semula, cara penentuan diagnosis gagal jantung dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik saja. Namun sekarang dengan perkembangan teknologi baru, diagnosis juga dapat ditegakkan dengan alat bantu yakni ekokardiografi, foto thorax, EKG dan kateter Swan Ganz. “Cara pemeriksaan lain yang baru secara klinis adalah dengan menilai profil klinis yaitu kongesti dan perfusi yang disebut metode wet and cold (nohria),” kata Lukman.

“Gagal jantung harus dibedakan dulu jenis-jenisnya seperti gagal jantung sistolik, akut atau kronik, stadiumnya dengan cara menggunakan alat bantu. Dengan penentuan ini, maka penatalaksanaan akan lebih tepat, misalnya pada penatalaksanaan gagal jantung akut harus cepat dan tepat. Jika perlu, dilakukan pemantauan hemodinamis,” ujarnya menambahkan.

Cara baru adalah dengan pemeriksaan brain natriuretic peptide (BNP) darah karena pada gagal jantung akut akan terjadi peninggian kadarnya dalam darah. BNP diproduksi oleh jaringan otot jantung bila ventrikel kiri teregang, berefek positif memperbaiki gangguan hemodinamik yang terjadi antara lain bersifat vasodilator dan meningkatkan diuresis.

Terakhir diperbaharui ( Monday, 28 July 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Joomla Templates by Joomlashack