A free template from Joomlashack

A free template from Joomlashack

Polls

Pendapat Anda tentang Situs Kami
 

Syndicate

Who's Online

Saat ini ada 3 Jumlah tamu Yang online
Home
Terapi Insulin bagi Diabetesi? Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Peringkat Pengguna: / 0
JelekBaik 
Ditulis Oleh Administrator   
Thursday, 07 June 2007
Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi jumlah diabetesi terus melonjak hingga mencapai 330 juta jiwa pada 2025.

DIABETES atau juga dikenal sebagai penyakit kencing manis merupakan penyakit yang ditandai dengan hiperglisemia atau peningkatan kadar gula darah yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Di Tanah Air, jumlah diabetesi tercatat lebih dari 13 juta pada 2003 dan diperkirakan terus meningkat menjadi lebih dari 20 juta pada 2030.

”Sebenarnya, penyakit ini ‘mengenakkan’ karena nafsu makan tidak hilang makan banyak, tapi berat badan kurus. Namun, mengingat komplikasinya yang lebih serius, penyandang DM harus mewaspadai dan mengontrol agar kadar gula tidak semakin naik,” kata Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Dr Pradana Soewondo SpPD-KEMD di Jakarta, akhir pekan lalu.

Cara mendeteksi diabetes sebenarnya mudah.Gejala awal seperti banyak makan, minum, dan banyak kencing. Bahkan, karena keinginan kencing itu membuat waktu tidur terganggu karena sering bangun malam. Diabetes ditandai dengan terjadinya peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Semua jenis diabetes melitus memiliki gejala yang mirip dan menimbulkan komplikasi pada tingkat lanjut.

Komplikasi jangka panjang seperti penyakit kardiovaskular, kegagalan ginjal kronis, kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf yang dapat menyebabkan impotensi. Bahkan, berisiko amputasi bila keadaan gula semakin tidak terkontrol. ”Masalah DM ini telah menyita perhatian dunia,termasuk Inggris, karena prevalensinya terus meningkat,” ungkap Direktur Diabetes Research Unit dari Rumah sakit Llandough di Inggris, Prof David R Owens.

Tidak hanya orangtua, anak kecil pun berpotensi diabetes akibat gaya hidup yang dijalani. Komplikasi dari DM dapat menurunkan kualitas hidup, bahkan membuat diabetesi meninggal lebih cepat. Sebab itu, diperlukan penanganan yang tepat dan sedini mungkin.

”Kondisi di Indonesia, penyandang diabetes tipe 2 lebih banyak dibandingkan diabetes tipe 1. Seseorang diabetesi tipe 1, tidak bisa hidup tanpa insulin. Sementara, tipe 2 bisa diatasi dengan pengobatan oral dan hanya membutuhkan insulin bila obatnya tidak efektif,” papar Pradana seraya menambahkan lebih dari 10% diabetesi tipe 2 membutuhkan insulin.

Lalu kondisi seperti apa yang membuat diabetesi membutuhkan insulin? Menurut Pradana, insulin diberikan pada diabetesi tipe 2 yang sudah diberikan obat, tetapi tingkat kadar gula darah tidak terpenuhi. Salah satu tolok ukur keberhasilan terapi pada pasien diabetes adalah kadar HbA1c yang nilainya berkisar antara < 6,5 sampai <7%. Adapun Owens mengatakan, jika target glukosa darah tidak tercapai dengan perubahan diet atau gaya hidup obat antidiabetes oral, maka pengobatan insulin perlu diberikan.

Meskipun glukosa darah puasa dapat terkendali secara efektif, mungkin diperlukan intervensi lebih lanjut untuk mengendalikan glukosa darah untuk mencapai target HbA1c. ”Pemberian insulin analog short-acting (rapid acting) sebelum setiap kali makan dapat mencegah terjadinya hiperglikemia tertinggi,” kata Owens yang merupakan alumni dari University of Wales College of Medicine.

Sementara Pradana mengungkapkan, perbedaan insulin analog dan insulin yang selama ini digunakan adalah insulin analog karena rapid acting sehingga lebih fleksibel digunakan. ”Karena kerja pendek sehingga tiap kali mau makan dapat langsung menggunakan insulin. Sebaliknya, jika tidak mau makan berarti tidak usah menggunakan suntikan ini. Diabetesi tidak terikat oleh jadwal makanannya,”kata Pradana.

Selain itu, insulin analog ini dapat mencegah angka kejadian hipoglikemia. Pemahaman dan partisipasi pasien sangat penting karena tingkat glukosa darah berubah terus.Karena kesuksesan menjaga gula darah dalam batasan normal dapat mencegah terjadinya komplikasi diabetes. Faktor lainnya yang dapat mengurangi komplikasi adalah mengubah gaya hidup seperti berhenti merokok, mengoptimalkan kadar kolesterol, menjaga berat tubuh yang stabil, mengontrol tekanan darah tinggi, dan melakukan olahraga teratur.

Upaya Menurunkan Risiko Komplikasi

HARAPAN baru menyeruak bagi diabetesi yang mampu mengontrol kadar gula di dalam darah. Semua itu berasal dari hasil temuan The Diabetes Control and Complications Trial (DCCT) dan The United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS), yang menunjukkan bahwa tingkat kadar gula dalam darah yang bisa dikontrol dapat mengurangi komplikasi dari diabetes melitus (DM).

”Mengontrol kadar gula dalam darah diabetesi tipe 1 dan 2 akan menurunkan komplikasi neuropathy, retinopathy, nephropathy, dan dapat mengurangi pula kejadian pelebaran pembuluh darah,” ujar Assistant Professor of Medicine at the Keck School of Medicine University of Southern California Ruchi Mathur MD. Mengontrol kadar gula dengan terapi intensif dalam mencapai gula darah puasa antara 70–120 mg/dl dan tingkat glukosa tidak lebih dari 160 mg/dl sesudah makan.

Masih dalam penelitian ini, lanjut Mathur, diabetesi tipe 1 yang mendapat perawatan tepat akan mengurangi risiko kerusakan mata hingga 76%, kerusakan ginjal menurun 54%, dan kerusakan saraf dapat menurun sampai 60%.

”Diabetes tipe 1 dihubungkan dengan meningkatnya penyakit jantung sama seperti diabetes tipe 2, akan menurunkan kejadian komplikasi dua dari tiga diabetesi. Akan tetapi, dapat pula menyebabkan penurunan kadar gula berlebihan,” tuturnya. Untuk itu, tingkat kadar gula dalam darah normal tidak dianjurkan untuk anak usia di bawah 13 tahun dan pasien yang mengalami hipoglikemia dan tidak menyadarinya.

Kontrol Gula Darah dengan Diet

SELAIN mengontrol kadar gula secara teratur, diabetesi sebaiknya melakukan diet makanan dan olahraga sebagai kunci sukses pengelolaan diabetes. Pola makan diabetesi harus memperhatikan takaran karbohidrat. Sebab lebih dari separuh kebutuhan energi diperoleh dari zat ini.

Asupan cukup nutrisi merupakan hal penting untuk mereka yang menderita diabetes. Mengontrol kadar glukosa dalam darah merupakan tujuan utama diet yang dijalani. Kebutuhan kalori disesuaikan dengan kelainan metabolik, usia, berat badan, tinggi badan, dan aktivitas tubuh.

”Diet yang dilakukan membantu mencapai dan menjaga berat badan normal untuk mencegah jantung dan kardiovaskular merupakan komplikasi dari diabetes,” kata asisten profesor patologi dari Universitas Marburg, Jerman, Conrad Stoppler MD. Conrad menambahkan, diet pola makan bagi diabetesi harus seimbang antara jumlah insulin yang digunakan dan obat diabetes yang diminum.

Secara umum, prinsip makanan sehat untuk diet sama untuk setiap orang. Merencanakan makanan dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing, jadwal dan pola makan yang biasa digunakan sehari-hari. Beberapa ahli menyarankan termasuk the American Diabetes Association merekomendasikan 50%-60% kalori tiap harinya dari karbohidrat, 12%-20% protein dan lemak tidak lebih dari 30%.

Sebagian diabetesi akan merasakan hasil diet yang disarankan. Bukan hanya mereka yang telah didiagnosis diabetes, juga untuk mereka yang sehat dalam menjaga kesehatan tubuh. Sementara bagi diabetesi yang ingin menjadi vegetarian bukan merupakan solusi, tapi dapat memberikan manfaat dalam mengontrol kadar gula. Seperti yang diungkapkan oleh Endokrinologis dari Mayo Clinic, Maria Collazo- Clavell MD, menu vegetarian akan memberikan manfaat dibandingkan mereka yang tidak menjalani diet vegetarian. Tapi tergantung dari makanan yang dipilih.

”Tergantung dari tipe vegetarian yang dijalankan dan sebagai pilihan menu diet. Beberapa ahli mengindikasikan diet vegetarian akan membantu tubuh merespons terhadap insulin. Kondisi ini tentu saja bagus untuk diabetesi,” papar Maria. Menurut dia, pola makan yang dijalankan akan mengurangi risiko diabetes yang sering dihubungkan dengan berbagai komplikasi seperti kardiovaskular dan gangguan ginjal.

Terakhir diperbaharui ( Monday, 28 July 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Joomla Templates by Joomlashack