|
Terapi DNA Telanjang Atasi Impotensi |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Monday, 04 June 2007 |
|
Terapi gen menggunakan "DNA telanjang" mungkin dapat dipakai untuk mengobati impotensi. Temuan awal hasil percobaan klinis pada manusia menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Dua orang pasien penderita disfungsi ereksi yang diberi terapi dalam dosis tinggi mengalami kemajuan berarti yang bertahan hingga lebih dari enam bulan. Jika terapi ini terbukti manjur, suatu saat mungkin juga dapat digunakan untuk mengatasi penyakit kelainan fungsi kandung kemih, sindrom iritasi usus, atau bahkan asma.
.
Disfungsi ereksi adalah penyakit umum yang menyerang lebih dari setengah pria berusia 40 hingga 70 tahun di seluruh dunia dan sekitar tiga perempat pria berusia di atas 70 tahun. Berdasarkan data Massachusetts Male Aging Study, total ada sekitar 140 juta pria di dunia yang mengalmi gangguan dalam berbagai tingkat dan cenderung meningkat hingga 300 juta pada tahun 2025.
Hal tersebut dipicu naiknya rata-rata tingkat peluang hidup dan bawaan diabetes. Setengah dari pria penderita diabetes diketahui menderita disfungsi ereksi.
"Pria akan lebih peka dalam kehidupan seksnya setelah terapi," kata Arnold Melman, seorang urolog dari Alberta Einstein College of Medicine dan Montefiore Medical Center di New York. Melman dan koleganya bereksperimen menggunakan sebuah gen yang disebut hMaxi-K.
Gen ini mengatur pembentukan molekul-molekul tambahan di sel-sel otot halus penis yang akan membantu ion-ion potassium mengalir. Hal tersebut akan membuat sel-sel di alat kelamin pria ini menjadi rileks sehingga darah yang dibutuhkan untuk mencapai ereksi mengalir lancar.
"Kelihatannya terjadi perubahan ekspresi gen ini karena usia atau penyakit sehingga kami pada dasarnya mengembalikannya," ujar Melman. Untuk menambahkan gen tersebut digunakan "DNA telanjang".
"DNA telanjang adalah vektor paling tidak efisien untuk mentransfer gen, tapi paling aman," kata Melman. Cara paling efektif mentransfer gen adalah menggunakan virus sebagai agennya, tapi ini jelas membahayakan. Maka digunakanlah DNA telanjang, yakni DNA yang telah dilucuti sebagian proteinnya.
Terapi awal diujicobakan pada penis pria berusia 42 hingga 80 tahun. Percobaan klinis berhasil pada 11 pria. Selain itu, gen yang ditransfer tidak ditemukan pada cairan semen, sehingga dapat dipastikan bahwa gen yang ditambahkan tidak akan berpindah kepada pasangan.
Meski demikian terapi ini tidak serta merta menggantikan fungsi obat-obatan seperti Viagra atau Cialis. Jika terapi kurang manjur, mungkin dapat ditambahkan pengobatan lain dengan dosis yang lebih rendah. Hasil penelitian ini dilaporkan dalam jurnal Human Gene Therapy |
|
Terakhir diperbaharui ( Monday, 28 July 2008 )
|