A free template from Joomlashack

A free template from Joomlashack

Home arrow News arrow Medis arrow Waspadai Overdosis Antibiotik
Waspadai Overdosis Antibiotik Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Peringkat Pengguna: / 0
JelekBaik 
Ditulis Oleh Administrator   
Thursday, 10 January 2008
YOGYAKARTA - Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM, Prof dr Iwan Dwiprahasto mengimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati dan kritis ketika menerima pemberian resep dari dokter. Menurut Iwan melihat pengalaman di beberapa negara lain masih dijumpai para dokter tersebut memberikan resep kepada pasiennya hanya berdasar insting, kebiasaan serta pengalamannya selama ini. Dan kebanyakan dalam praktik tersebut para dokter kebanyakan selalu memberikan antibiotik terhadap pasiennya.

"Di Puskesmas maupun dokter swasta kalau menemui pasien batuk pilek 90 persen lebih pasti selalu diberi antibiotik," kata Iwan usai pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar FK UGM.


Padahal, lanjut Iwan, lebih dari 87 persen pasien batuk pilek tersebut umumnya viral infection yang tidak selalu memerlukan antibiotik. Selain itu hasil penelitian justru menunjukkan antibiotik itu tidak lebih baik dibanding placebo dalam hal meredakan gejala batuk pilek.

"Padahal saat ini risiko efek samping kelompok yang mendapat antibiotik hampir dua kali lebih besar daripada yang mendapat placebo," katanya.

Iwan juga mengkritik dokter yang masih saja menulis resep dengan tradisi tulisan sulit dibaca yang sebenarnya memunculkan banyak bahaya karena petugas apotik kerap harus menebak-nebak. Kebiasaan keliru menuliskan aturan satu resep tiga kali sehari seharusnya mulai ditinggalkan dan diganti menjadi setiap delapan jam sekali.

"Pernah apoteker salah kasih sitotek (obat untuk aborsi). Padahal dokter menulisnya sotatek (obat untah). Tapi karena nulisnya gak jelas maka terjadilah kekeliuran fatal itu," tegas Iwan.

Dalam pidato pengukuhannya Iwan menyatakan bahwa munculnya berbagai kasus tersebut bisa terjadi juga dikarenakan lemahnya akses informasi petugas kesehatan terhadap obat dan farmakoterapi. Meskipun seluruh jurnal biomedik dan buku teks kedokteran sudah bisa diakses dengan mudah melalui internet, namun kendala bahasa dan biaya sering menjadi penghambat. Terlebih lagi bagi dokter yang tinggal di daerah terpencil.

Iwan memperkirakan dalam 10-15 tahun ke depan, lemahnya akses informasi ini masih akan terus menghantui dunia kesehatan Indonesia.

Keterbatasan informasi inilah yang dalam perkembangan penggunaan obat sering menjadikan off-label use atau penggunaan di luar rekomendasi serta dosis yang ditentukan. Obat yang sering digunakan secara off label use antara lain antihistamin, antikonvulsan, antibiotika, serta obat batuk dan flu. "Obat kardiovaskuler pun tergolong sering digunakan off label," tambahnya.

Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Joomla Templates by Joomlashack