A free template from Joomlashack

A free template from Joomlashack

Polls

Pendapat Anda tentang Situs Kami
 

Syndicate

Who's Online

Saat ini ada 13 Jumlah tamu Yang online
Home
Perempuan Lebih Berisiko Alami Depresi Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Peringkat Pengguna: / 0
JelekBaik 
Ditulis Oleh Administrator   
Friday, 16 November 2007
Dibandingkan dengan laki-laki, perempuan berisiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami depresi. Selain karena faktor hormonal, multi peran yang harus dijalani perempuan dan belum adanya kesetaraan gender menjadi faktor yang memicu munculnya depresi.

Kenyataan itu terungkap dalam acara media edukasi bertajuk "Masyarakat Urban Rentan Depresi", yang diselenggarakan oleh Wyett di Jakarta, Kamis (15/11). Menurut dr. Suryo Dharmono, Spesialis Kedokteran Jiwa dari Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, depresi dapat menyebabkan seseorang merasa bersalah tanpa alasan, merasa tidak berguna, serta tidak berminat pada hal-hal yang semula disukainya.



"Depresi dapat mempengaruhi suasana hati, tubuh dan pikiran seseorang," ujar Suryo. Lebih lanjut Suryo memaparkan bahwa peran ganda perempuan juga membuat perempuan secara mental lebih terbeban. "Saat ini mengambil keputusan adalah sesuatu yang berat, termasuk pengambilan keputusan dalam rumah tangga. Tugas mengambil keputusan dan kekhawatiran-kekhawatiran yang dirasakan akan membuat kita lebih stres," papar dokter yang menjadi Staf Pengajar Bagian Psikiatri FKUI ini.

Untuk mencegah depresi berkelanjutan pada kaum perempuan, Suryo menekankan pentingnya menempatkan perempuan pada posisi yang setara dalam keluarga. "Ketika dalam sehari-harinya ia ada dalam posisi mengambil banyak keputusan, mulai dari pemilihan sekolah hingga memutuskan membeli suatu barang, perempuan seharusnya tidak ditempatkan dalam posisi yang ambivalen, yakni hanya mengambil keputusan tapi penentu keputusan tetap di tangan kepala keluarga, yakni laki-laki," papar Suryo.

Sedangkan untuk faktor-faktor hormonal, seperti pre menstruation syndrom atau pre menopause, bisa diatasi dengan melakukan terapi hormonal. "Faktor lain adalah ketidakseimbangan neurokimia dalam otak, cirinya adalah orang yang kehidupannya stabil tapi masih depresi. Jika sudah begini dibutuhkan obat antidepresan untuk menyeimbangkan neurokimianya," jelas Suryo.

Data WHO (2006) menyebutkan, sebanyak 121 juta orang menderita depresi, dengan persentase 5,8 persen laki-laki dan 9,5 persen perempuan. Kendati angka depresi pada laki-laki juga tinggi namun laki-laki jarang yang mencari pertolongan medis dan ketika mereka melakukan hal tersebut, kemungkinan bagi dokter mendeteksi gejala-gejala depresi sangat kecil.
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Joomla Templates by Joomlashack