|
Home
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Monday, 16 July 2007 |
Dengan pengobatan yang teratur, 70 persen pengidap epilepsi bisa disembuhkan.
Linda dan Doni--sebut saja begitu--sudah lama saling mencintai. Dalam hitungan pekan, pasangan yang tampak selalu bahagia ini segera melangsungkan pernikahan. Sayangnya, dua hari menjelang ke pelaminan, Doni terserang epilepsi. Semua anggota keluarga gempar.
Kerabat Linda mulai tarik-ulur tentang rencana perhelatan yang sudah disusun jauh-jauh hari. Ketakutan akan menurunnya penyakit epilepsi kepada anak-anak kelak jadi pertimbangan utama Linda dan keluarga besarnya. Syukurlah, setelah diberikan penjelasan oleh dokter, mereka akhirnya melanjutkan resepsi perkawinan.
"Serangan terjadi karena kelelahan mempersiapkan pernikahan tersebut," ungkap Dr Hermawan Surjadi, ahli saraf pemimpin klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Karmel di Kemanggisan, Jakarta Barat, yang merawat Doni dan memberikan konseling kepada keluarganya.
Epilepsi, yang diperingati pada setiap pekan terakhir Juni sebagai pekan epilepsi dunia, sesungguhnya bukan hal baru. Ia juga bukan masalah yang menyebabkan hilangnya kesempatan pengidap untuk jadi orang sukses. Asal tahu saja, sejumlah orang seperti Van Gogh, Napoleon Bonaparte, dan Alfred Nobel adalah pengidap epilepsi.
Seperti yang dicatat Hermawan, sejak akhir 1980-an, kepedulian orang akan epilepsi cenderung mulai menurun. Yang meningkat justru stigma terhadap penyakit ini, dari keengganan berjodoh dengan si pengidap hingga menjadikan epilepsi sebagai guyonan para pelawak di televisi.
Hal-hal semacam itu yang membuat banyak penderita menjadi rendah diri. Sebagian malah enggan bergaul. "Belum lagi sikap keluarga yang juga sering kali menganggap penyakit tersebut sebagai aib," ujar Hermawan.
Padahal, dengan bimbingan yang tepat, pengidap tetap bisa menjalani kehidupan secara normal, membangun karier, bahkan mengemudikan kendaraan dengan syarat-syarat tertentu. Selain itu, dalam kenyataannya, 90 persen pasangan yang salah satunya mengidap epilepsi tidak menurunkan penyakit ini kepada keturunan mereka.
Sementara itu, pasangan suami-istri yang mengidap epilepsi punya kemungkinan menurunkan hanya 10 persen. Di Indonesia, saat ini jumlah penderitanya sekitar 1,2 juta jiwa. Sedangkan di Amerika tercatat 2,5 juta pengidap epilepsi dalam beragam kondisi, dari yang ringan hingga yang berat.
Dalam dunia medis, epilepsi dikenal sebagai sindrom klinik yang ditandai dengan serangan mendadak dan berulang. Hal ini terjadi karena muatan listrik pada sel otak lebih besar sehingga menimbulkan kejang-kejang.
Jadi, Hermawan menegaskan, epilepsi bukan kecacatan. Ia hanya penyakit yang membutuhkan pola hidup tertentu. Ini tak berbeda dengan pengidap diabetes yang bisa melakukan berbagai aktivitas dengan syarat tertentu.
Munculnya kejang-kejang sebenarnya bisa dialami siapa saja. Seperti rasa gremet-gremet ringan di salah satu bagian tubuh yang muncul tiba-tiba. Diperkirakan setiap orang sedikitnya mengalami satu kali serangan dalam hidupnya. Misalnya saat demam tinggi, lalu kejang-kejang. "Yang membedakannya, pada pengidap epilepsi, serangan ini terjadi secara berulang," ucapnya.
Lebih jauh Hermawan menjelaskan, kekambuhan epilepsi tidak selalu berupa kejang-kejang di sebagian tubuh atau seluruh tubuh. Ada pula yang manifestasinya berupa absentia atau hilangnya kesadaran dalam hitungan menit. Si pasien tampak bingung atau mengantuk tiba-tiba, lalu segera sadar kembali tanpa mengetahui apa yang telah terjadi.
Sejauh ini, epilepsi tidak mempengaruhi kecerdasan meski dialami pengidap retardasi mental. Selain itu, penyakit ini tidak selalu berkaitan dengan faktor genetik. Serangan bisa terjadi pada semua orang, tapi lebih sering terjadi pada usia muda. Pemicunya antara lain cedera di otak akibat stroke, radang otak, infeksi citomegalo virus, dan masalah lain.
Pada bayi, cedera kepala yang dialami saat kelahiran dapat memicu kehadiran epilepsi ketika dia dewasa. Karena itu, penggunaan forcep atau vakum saat kelahiran harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Menurut Hermawan, epilepsi tak perlu ditakuti karena dapat diobati. Tidak sedikit pengidap yang akhirnya sembuh meski tidak bebas dari serangan. Malah ada penderita epilepsi ringan yang sembuh tanpa pengobatan. "Jadi," kata dia, "ini hanya bentuk sindrom klinis, bukan penyakit itu sendiri."
Berdasarkan pengalaman, dengan pengobatan yang teratur, 70 persen epilepsi bisa disembuhkan. Sekitar 20 persen sembuh dengan hanya 1-2 serangan dalam setahun. Tindakan operasi bisa dilakukan jika hanya berfokus pada epilepsi di otak. "Tapi di Indonesia operasi untuk epilepsi memang jarang dilakukan. Hanya saat kondisi tertentu," tutur Hermawan.
Jangan Panik
Bila salah seorang di antara anggota keluarga Anda menderita epilepsi, lakukan langkah-langkah berikut ini. * Yang pertama dan paling penting saat menghadapi pengidap yang mengalami serangan adalah tetap tenang dan jangan panik. * Jika datang serangan dalam kadar berat hingga hilang kesadaran, bersihkan dulu liur yang keluar untuk mencegah penyumbatan saluran napas. * Perlahan-lahan rebahkan pengidap. Jangan memaksa mendiamkan kejang-kejangnya. * Letakkan kepala pengidap pada benda yang rata dan lembut untuk mencegah benturan terhadap lantai yang keras. Beri penyangga bagian lehernya. * Jauhkan segala benda tajam untuk mencegah cedera. * Jangan tinggalkan pengidap sendirian. Segera cari pertolongan jika serangan tidak juga reda. * Kondisi darurat yang harus ditangani ahli medis di antaranya: serangan berlangsung lebih dari 2-3 menit, mengalami cedera, dalam keadaan hamil, mengidap diabetes, ataupun keluarga atau orang di sekitar pengidap tidak punya pengetahuan tentang bagaimana menangani serangan epilepsi.
Buang Stigma
Diperkirakan 25-75 persen pengidap dewasa mengalami tanda-tanda depresi jika tak mendapat dukungan emosional dari sekitarnya. Beberapa hal yang membuat pengidap merasa terganggu adalah: Kecemasan akan serangan yang tidak terduga. Rasa malu setelah serangan berlangsung. Rasa keterasingan dari lingkungan kerja dan lingkungan sosial.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|
|