A free template from Joomlashack

A free template from Joomlashack

Polls

Pendapat Anda tentang Situs Kami
 

Syndicate

Who's Online

Saat ini ada 39 Jumlah tamu Yang online
Home
Cloning sel sperma dapat mengatasi problem infertilitas. Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Peringkat Pengguna: / 0
JelekBaik 
Ditulis Oleh Administrator   
Thursday, 12 July 2007
Selain sejumlah kecil kasus yang memang belum dapat terungkap secara jelas secara medis, maka dalam beberapa kajian ilmiah mutakhir tentang kondisi kelainan ketidaksuburan pada pasangan suami istri yang tengah dalam usia produktif untuk berketurunan dan telah menikah selewat 3 s/d 4 tahun; kajian ilmuwan menemukan bahwa dalam kasus infertilitas di AS ternyata 40% problem infertilitas melekat pada sang pria. 1 diantara 300 pria di AS bahkan mengalami kondisi hampir-hampir tidak memiliki sel sperma aktif alias "sperm counts approaching zero".





Suatu keberhasilan kajian riset terkini kajian dua serangkai ilmuwan Universitas Cornell, NY di AS yang berhasil melakukan eksperimen cloning 1 sel sperma tikus percobaan yang direplikasi tumbuh menjadi sejumlah sel sperma agaknya bisa menjadi tumpuan harapan di masa depan bagi para pria yang memiliki kelainan kualitas sperma yang amat rendah.

Adalah Prof. Gianpiero Palermo dan Takumi Takeuchi dari Weill Medical College, yang berhasil melaksananakan proses cloning atas sel sperma tikus untuk kemudian melanjutkan dengan eksperimen proses penghamilan buatan metoda in vitro fertilization ---dengan jalan menyuntikkan ke dalam indung telur pada tikus betina--- ternyata kemudian berhasil mendapatkan kelahiran sejumlah anak tikus. Dari sejumlah 13 anak tikus yang lahir hasil eksperimen 4 diantaranya dapat terus bertahan hidup dan bahkan kini beranak-pianak.

Dalam awal eksperimen Prof. Palermo dan Takeuchi melaksanakan rincian teknik, yakni melakukan proses cloning dengan cara menyuntikkan kepala sel sperma kedalam satu sel telur yang muatan DNA terlebih dahulu diangkat. Hasilnya "pseudosperm" diatas kemudian mulai melakukan proses replikasi hingga menghasilkan sejumlah sel sperma yang seluruhnya mengandung kode genetika yang sama sesuai persis dengan sel sperma orisinal. Menurut perkiraan Prof. Palermo cloning yg berawal dari 1 sel sperma orisinal maksimal hanya dapat dilipatgandakan menjadi 8 (delapan) sel sperma clon buatan:

Pertama kali 1 sel membelah jadi 2, tahap kedua 2 menjadi 4, dan tahapan ketiga diperoleh 8 sel. Berhubung apabila membiarkan sel melewati proses replikasi yang berlangsung lebih dari 3 kali, maka sel sperma yang kemudian tercipta dikuatirkan akan kehilangan muatan cirian genetika spesifik jantan.

Dan sel sperma hasil cloning eksperimen ini ternyata berbentuk cenderung lonjong dan tidak memiliki ekor serupa cambuk yang lazimnya terdapat pada sperma normal berguna untuk berenang & bergerak aktif. Walhasil, sperma hasil proses cloning ini memang hanya bisa dipergunakan untuk proses pembuahan kehamilan buatan ala "bayi tabung" : test-tube fertilization , yakni dengan menyuntikkannya ke dalam sebuah indung telur utuh lewat proses penyuntikkan tersendiri : intracytoplasmic sperm injection ---serupa pada proses penghamilan buatan pada manusia dengan metoda "in vitro fertilization"---

Lebih lanjut Prof. Palermo menyatakan bahwa proses eksperimen seperti di atas masih jauh dari sempurna guna dapat diterapkan pada manusia, mengingat proses pembelahan sel manusia berlangsung dengan kompleksitas yang lebih rumit. Bahkan, ketidakberhasilan dalam eksperimen tikus percobaan, yang ditunjukkan dengan tingginya rasio kegagalan.

---dari sejumlah 80 embryo yang melewati proses kehamilan buatan hanya 13 yang tumbuh hingga berhasil melewati tahap kelahiran--- dan sejumlah besar kemudian mati tidak lama setelah kelahiran hingga hanya menyisakan : 4 (empat) tikus yang berhasil lolos selamat hingga tumbuh dewasa pun menyiratkan resiko ketidaksempurnaan dalam eksperimen ini. Peneliti pun selain mewanti-wanti akan kepentingan untuk melaksanakan eksperimen lanjutan sekaligus menegaskan betapa rambu-rambu hukum yang memang menjadi batasan ketat untuk terlebih dahulu dapat disesuaikan dengan bijak untuk mendukung tahapan eksperimen yang penerapannya dapat dilakukan terhadap manusia pada masa yang akan datang.
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Joomla Templates by Joomlashack