|
Indonesia Sangat Kekurangan Dokter Gigi |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Friday, 06 July 2007 |
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS--Persatuan Dokter Gigi Indonesia memastikan, sampai saat ini Indonesia sangat kekurangan tenaga dokter gigi. Hal itu berdampak pada belum optimalnya pelayanan kesehatan gigi yang bisa diberikan kepada masyarakat. Untuk memenuhi kekurangan tersebut dibutuhkan waktu setidaknya 60 tahun hingga tercapai perbandingan ideal menurut World Health Organization (WHO) di mana satu dokter gigi melayani 10.000 penduduk saja.
”Saat ini perbandingan jumlah dokter gigi dengan penduduk di Indonesia mencapai 1:17.500. Artinya, satu dokter gigi masih melayani 17.500 orang pasien per tahun,” kata Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Pusat, Emmyr F Moe’is di sela-sela kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dokter Gigi se-Indonesia yang diselenggarakan di Balai Keratun, Gedung Gubernur Lampung, Kamis (5/7). Catatan PDGI Pusat menyebutkan, secara keseluruhan di Indonesia terdapat 17.500 orang dokter gigi. Sekitar 6.700 orang di antaranya merupakan anggota PDGI. Dokter gigi sebanyak 17.500 orang itu sudah mendapatkan surat registrasi operasional. Sayangnya, keberadaan dokter gigi tersebut tidak tersebar merata di seluruh Indonesia.
"Saat ini tidak semua puskesmas memiliki dokter gigi. Ada Puskesmas yang memiliki dokter gigi serta peralatan yang lengkap, tapi ada juga yang hanya memiliki gokter gigi tanpa dilengkapi dengan peralatan gigi yang memadai. Namun, lebih banyak lagi Puskesmas yang tidak memiliki keduanya," ujar Emmyr.
Dengan demikian, apabila jumlah dokter gigi di Indonesia dibandingkan dengan jumlah penduduk, angka rasio perbandingan itu masih jauh dari ideal. Untuk itu, DGI akan menghimpun perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Kegokteran Gigi untuk bisa menyuplai tenaga kerja dokter gigi supaya bisa ditempatkan di seluruh Indonesia.
Namun demikian, masih ada kendala dimana rata-rata dokter gigi ini berjenis kelamin perempuan. Meskipun kondisi tersebut tidak berkaitan dengan gender, tapi seorang dokter gigi perempuan akhirnya akan menjadi terbatas untuk bisa ditempatkan di berbagai daerah.
Selain kendala gender, Emmyr juga mengakui, saat ini masyarakat masih belum begitu paham tentang keberadaan dokter gigi. Di Indonesia, masyarakat masih memandang keberadaan dokter gigi belum begitu penting. Itu karena kebanyakan masyarakat menganggap nyawa lebih penting dari gigi sebab bisa menyebabkan kematian. ”Padahal sakit gigi juga sangat rentan karena berkaitan dengan syaraf,” katanya.
Ke depan, untuk bisa memenuhi kebutuhan dokter gigi, PDGI akan mengadakan pembicaraan dengan pemda serta DPRD di setiap daerah untuk membicarakan tentang regulasi pengadaan dokter gigi.
"Kebutuhan masyarakatlah yang akan dikedepankan. Sebab bila ditanyakan sekarang ini berapa jumlah dokter gigi yang dibutuhkan, saya akan mengatakan 60 tahun lagi baru jumlah dokter gigi akan sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia," katanya.
Dalam kesempatan Rakernas tersebut Gubernur Lampung Sjachroedin ZP sangat mendukung pemenuhan tenaga dokter gigi di Lampung. Bahkan kalau bisa, setiap puskesmas di Lampung memiliki tenaga dokter gigi.
"Jangan hanya dokter umum saja yang ada. Saya sudah mengatakan kepada Kepala Dinas Kesehatan mengenai kebutuhan dokter gigi tersebut. Saya juga sudah mengatakan, kalau bisa dokter gigi juga dilengkapi alat-alat yang dibutuhkan, karena teknologi terus berkembang,” katanya.
Sjachroedin juga mengakui bahwa hingga saat ini banyak rumah sakit dan puskesmas di Lampung yang belum memiliki fasilitas yang memadai. Ia berharap, Rakernas PDGI tersebut bisa membuka mata anggota PDGI untuk membantu rumah sakit umum dan puskesmas yang hingga saat ini banyak yang belum memiliki dokter gigi.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|