|
Di masa pergantian musim atau masa pancaroba saat ini penyakit yang perlu diwaspadai adalah pnemonia (infeksi radang paru) khususnya yang menyerang anak balita, karena bisa menyebabkan kematian. Di Indonesia, pnemonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan tuberkulosis.
"Penyakit tersebut adalah infeksi pada saluran pernafasan akut (ISPA) yang menjurus ke pernafasan cepat atau pnemonia, karena penyakit ini bila tidak segera diobati akan menyebabkan kematian bagi anak balita," kata Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, dr. Syamsudin melalui Kasi Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) dan Pemberatasan Penyakit Menular (P2M), dr. Eko Budi Siswanto, di Boyolali, Rabu (4/7).
Eko Budi menjelaskan, gejala penyakit pnemonia tersebut biasanya penderita mengalami batuk, pilek, dan disertai nafas cepat. Faktor risiko penyakit ini di antaranya, akibat udara di lingkungan rumah kurang baik serta gizi buruk bagi balita. "Namun, penderita kalau hanya batuk dan pilek saja itu sudah biasa atau dikatakan ISPA," katanya.
Berikut ini adalah faktor-faktor yang meningkatkan resiko berjangkitnya Pnemonia: bayi berumur dibawah 2 bulan, gizi kurang, berat badan lahir rendah, tidak mendapat ASI memadai, polusi udara, kepadatan tempat tinggal, imunisasi yang tidak memadai, serta kurang vitamin A. Diagnosis pnemonia pada balita didasarkan pada adanya batuk disertai pernapasannya lebih cepat dari normal. "Pernafasan anak usia di bawah dua bulan yang normal sebanyak 60 kali per menit, sedangkan usia dua hingga lima tahun sebanyak 50 kali per menit," kata Eko.
Menurut situs Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof.Dr.Sulianti Saroso, pnemonia ditandai dengan demam, sesak napas, napas dan nadi cepat, dahak berwarna kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru.
Sedangkan pnemonia berat umumnya memiliki ciri adanya batuk, sesak napas atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing) pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. "Jika sudah disertai ngorok dan berbunyi waktu bernafas terhadap anak balita, maka bisa menyebabkan penderita tidak tertolong lagi atau ’stidor’," tambah Eko. Karenanya, jika sudah menjurus ke pnemonia, maka penderita harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit.
Pengobatan awal penyakit ini biasanya dengan antibiotik, terutama pnemonia yang disebabkan oleh bakteri dan mikoplasma. Menurut Eko, pencegahan pnemonia sebenarnya mudah, yakni dengan menjaga gizi balita dan kebersihan udara atau adanya ventilasi yang cukup di rumah. Untuk masyarakat di pedesaan atau daerah berhawa dingin yang sering membuat perapian di dalam rumah juga perlu berhati-hati karena asapnya bsia menyebabkan balita terkena pnemonia.
|