|
Hindari Malpraktik dengan Komunikasi |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Thursday, 05 July 2007 |
|
SALEMBA,- Istilah malpraktik di dunia kedokteran kerap didengar. Kasus ini sebenarnya bisa dihindari dengan memperbaiki komunikasi antara dokter dan pasien. Hal ini dikatakan Ketua Bidang Kajian Hukum Kedokteran dan Kesehatan Ikatan Dokter Indonesia, Herkutanto, di sela-sela diskusi panel tentang malpraktik di Ruang Senat Fakultas Kedokteran UI, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (3/7) pagi.
"Jadi sebaiknya setiap dokter yang memeriksa pasien harus bisa menjelaskan kondisi kesehatan si pasien. Jika harus dilakukan tindakan medis serius dengan risiko besar, si dokter juga harus membicarakannya dengan pasien. Si pasien harus tahu konsekuensi terburuk dalam tindakan medis," tutur Herkutanto.
Namun, pada kenyataannya saat ini banyak dokter di Indonesia yang tak melakukan itu. Akibatnya, banyak pasien menuduh si dokter melakukan malpraktik bahkan ada pula yang melaporkannya ke polisi dan menggugatnya ke pengadilan.
Menurut Herkutanto, masyarakat harus tahu definisi malapraktik medis. "Definisi malapraktik medis adalah perbuatan yang melanggar standar profesi di dalam melakukan tugas-tugas profesional kedokteran," ujarnya.
Setiap dokter yang melanggar kode etik kedokteran bisa dijerat dengan UU Praktik Kedokteran. Bahkan, pihaknya telah mencabut izin praktik seorang dokter di Jakarta pada Maret 2005 lantaran si dokter melakukan operasi di rumahnya hingga membuat si pasien tewas.
Selain itu, Herkutanto menyarankan agar rumah sakit di Jakarta menyediakan advokasi bagi pasien. Jika terjadi kasus malapraktik bisa diselesaikan dengan advokasi tersebut, sehingga tak perlu sampai ke polisi. Namun sayangnya RS di Jakarta yang memiliki tim advokasi pasien baru dimiliki di RS Pondok Indah.
Anggota Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia dr Khie Chen Lie menambahkan, "Dalam hal sengketa medik yang sering terjadi disebabkan adanya kesenjangan persepsi antara dokter dan pasien. Pasien dan keluarga merasa kurang puas dengan pengobatan yang dilakukan, sedangkan dokter dan rumah sakit merasa sudah melakukan pengobatan secara optimal."
Ia memaparkan, kendala atau masalah yang kerap timbul dalam komunikasi antara pasien dan dokter antara lain adalah keterbatasan waktu untuk bertemu atau pertemuan yang tidak efektif karena yang terjadi adalah komunikasi satu arah.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|