A free template from Joomlashack

A free template from Joomlashack

Home arrow News arrow Informasi Umum arrow Menkes Prioritaskan Askeskin untuk Generik
Menkes Prioritaskan Askeskin untuk Generik Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Peringkat Pengguna: / 0
JelekBaik 
Ditulis Oleh Administrator   
Thursday, 05 July 2007
Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari menegaskan,dia tidak pernah memangkas jumlah jenis obatobatan pada penggunaan asuransi kesehatan keluarga miskin (Askeskin). Dia menambahkan, Kepmenkes No 410 Tahun 2007 yang berisi tentang pemangkasan jenis obat, yang disediakan dalam layanan Askeskin,tidak sepenuhnya benar.

JAKARTA – Menurut Menkes, program Askeskin memang diprioritaskan bagi penggunaan resep obat generik. Namun,kenyataannya,ujar dia, banyak dokter di rumah sakit (RS) daerah yang memberikan resep obat paten yang sebenarnya ada generiknya. Padahal, karena tujuan dana Askeskin lebih banyak diakses masyarakat miskin maka diprioritaskan penggunaan resep generik.

Kalau memang terpaksa menggunakan obat paten karena generiknya tidak ada, harus ada izin khusus dari direktur RS-nya. Menkes menjelaskan, penertiban ini terpaksa dilakukan karena pascaprogram Askeskin, ternyata ada euforia berlebihan. Dokter-dokter di RS daerah memberikan resep obat paten kepada pasien keluarga miskin.

Akhirnya,anggaran Askeskin jadi cepat habis karena klaim yang diajukan nilainya besar. Nah, cepat habisnya dana Askeskin membuat Depkes melakukan verifikasi terhadap resep-resep yang diberikan.Tercatat, Provinsi Jawa Timur yang klaim asuransinya paling banyak menggunakan obat paten.

Akhirnya, Depkes mengingatkan kembali kepada RS dan dokter di daerah untuk menggunakan obat generik. ’’Ini bukan berarti pemangkasan, tapi hanya penertiban ke prosedur awalnya.Alasannya, karena harganya lebih murah, akan lebih banyak pasien gakin yang bisa menikmati program ini,”ujarnya.

Selain itu, tambah Siti Fadilah, kewajiban menggunakan resep obat generik ini guna mencegah kolusi antara dokter dan perusahaan farmasi. Meskipun sangat sulit untuk dibuktikan, hal itu diharapkan menjadi salah satu upaya pencegahan. Jadi, pinta dia, masyarakat tidak perlu khawatir. Selama ada obat generiknya, pasti akan di-cover Askeskin.

Namun, kalau tidak ada, resepnya harus disetujui direktur RS. Tercatat, program Askeskin pada 2005 lalu mampu melayani 60 juta pasien gakin dengan nilai anggaran Rp2,23 triliun. Setahun kemudian, dana yang dikucurkan sebanyak Rp2,5 triliun dengan target 60 juta pasien.

Sementara pada 2007,Askeskin ditargetkan mampu meng-cover sebanyak 76,4 juta jiwa pasien gakin dengan total anggaran Rp4,6 triliun. Sementara itu, di Surabaya, pasien gakin merasa ketar-ketir dengan pemberlakuan Kepmenkes yang mengatur tentang layanan kesehatan untuk masyarakat miskin. P

aling tidak,perasaan khawatir itu diakui sejumlah pasien atau keluarga pasien yang berobat di RSU dr Soetomo,Surabaya,yang ditemui SINDO,kemarin. Wagiman, misalnya.Dia keberatan jika pemerintah memangkas persediaan obat yang ditanggung dalam Askeskin, yang hanya menyediakan obat-obat jenis generik. Seusai menjalani operasi kanker usus,dia harus kontrol rutin setiap dua minggu sekali.

Warga Tandes, Surabaya, ini mulanya menggunakan dana pribadi untuk berobat. Namun, saat itu, sekitar enam bulan lalu, operasi yang dijalaninya menghabiskan dana hingga Rp24 juta. ’’Karena uang saya sudah habis, saya mengurus Askeskin sejak empat bulan lalu. Obat-obat yang dibeli kebanyakan obat paten yang harganya mahal,” tutur pria yang mengaku hanya bekerja serabutan ini.

Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Joomla Templates by Joomlashack