A free template from Joomlashack

A free template from Joomlashack

Polls

Pendapat Anda tentang Situs Kami
 

Syndicate

Who's Online

Saat ini ada 12 Jumlah tamu Yang online
Home
Mendadak Lumpuh, Belum Tentu Stroke Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Peringkat Pengguna: / 0
JelekBaik 
Ditulis Oleh Administrator   
Wednesday, 04 July 2007
Oleh: Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum

Suatu pagi, pada jam kerja yang hiruk pikuk, seorang pria paruh baya, belum genap 50 tahun, mendadak lemas tungkainya saat hendak turun dari bus jemputan, di depan halaman kantornya. Dimulai dengan rasa pening hebat, penglihatan kabar, ia pun jatuh tersungkur.

Tengah terserang stroke kah dia?

Mungkin. Bisa jadi juga bukan. Sepintas memang menyerupai gejala serangan stroke. Ia pun segera diangkut menuju rumah sakit. Masih tampak seperti kebingungan. Tetap tak bisa berdiri sendiri. Ia dibopong memasuki ruang gawat darurat.

Tensinya saat itu 210/120. Luar biasa tinggi. Pasti tensinya lebih tinggi lagi pada saat ia masih di atas bus, dan serangan mendadak lemas itu terjadi. Dokter menemukan adanya gejala mati rasa sesisi tubuh, tampak sedikit kelainan di retina mata saat dilakukan pemeriksaan teropong mata (fundus copy).

Observasi dilakukan terus selama perawatan di rumah sakit. Melihat tensi darah setinggi itu, dugaan tentu ini sebuah serangan stroke. Semua diperiksa, termasuk untuk memastikan dugaan adanya stroke, kendati tidak spesifik benar kalau itu stroke. Kalaupun itu stroke, tergolong jenis yang ringan saja.

Dari hasil pemeriksaan CT Scan kepala, muncul dugaan kuat ini bukan stroke setelah melihat ada beberapa bagian otak yang sembab (oedematous). Hampir pasti ini bukan suatu bentuk serangan stroke, lalu apa?

Hypertensive Encephalopathy

Akhirnya kesimpulan diagnosis kasus di atas tiba juga. Ini sebuah kasus hypertensive encephalopathy atau hipertensi yang sudah mengganggu otak.

Ada bagian di otak yang mengalami sembab akibat tekanan darah yang kelewat tinggi. Bagian otak yang sembab terjadi di daerah tertentu, yaitu di daerah subcortical otak.

Tentu saja tensi darahnya perlu berangsur-angsur diturunkan. Setelah tiga hari perawatan, tensi darahnya sudah hampir mencapai level normal. Dokternya bertanya, berapa tensi daralmya selama ini?

Ternyata pasien ini kasus hipertensi yang sudah menahun. Sudah lebih lima tahun ia mengidap hipertensi yang tidak terkontrol. Kadang tinggi, kadang turun lagi. Paling tinggi, menunut pengakuannya, sampal 180/100, dan ia seorang perokok berat, selain tidak pantang yang lain-lain, termasuk doyan menu yang serba asin.

Hari keempat perawatan, kondisi pasien sudah pulih seperti sediakala. Tak ada yang menyisa tampak pada tubuhnya. Tidak juga tampak kelumpuhan. Rasa kebas sesisi dan segala yang ia rasakan pada saat serangan di bus beberapa hari berselang, hilang sudah.

Kenyataan di atas sekaligus meneguhkan bahwa kasus di atas benar hypertensive encephalopathy, dan bukan stroke. Lalu, apakah bedanya dengan stroke melihat sifat serangannya yang seolah-olah memang terjadi kelumpuhan?

Stroke Ringan (TIA)

Kita mengenal jenis stroke yang ringan atau TIA (Transient Ischaemic Attack). Disebut ringan karena jenis stroke ini akan segera pulih setelah tak lebih dari sehari. Serangannya mirip dengan kasus di atas. Yang menonjol pada TIA, tampak gangguan pada unsur ketangkasan.

Apa yang terjadi pada otak dalam kasus stroke ringan? Ada bagian otak yang terhambat aliran darahnya. Penyebabnya adanya butiran darah beku bercampur lemak (emboli) yang hanyut bersama aliran darah memasuki pembuluh darah otak.

Oleh karena sumber emboli berasal dari pembuluh darah batang leher (karotid atau basilaris), cabang pembuluh darah otak yang terkena juga cabang tertentu yang menerima darah langsung dari pembuluh darah di batang leher itu.

Hambatan aliran darah sejenak pada cabang pembuluh darah otak tersebut, yang akan memunculkan gejala TIA. Umumnya berupa rasa kebas sebagian tubuh, gangguan berbicara, rasa bingung, rasa bergoyang (vertigo), lalu terjatuh lunglai (drop attack).

Satu hal yang perlu diingat, sering TIA disertai pula dengan gejala buta mendadak. Kebutaan mungkin hanya pada sebelah mata, dan sebelah mata pun mungkin hanya sebagian lapangan penglihatannya saja yang terganggu (amaurosis fugax). Khasnya jenis kebutaan oleh stroke ringan ini, umumnya akan pulih sendiri setelah beberapa saat, tak lebih lama dari sehari.

Apa artinya kalau pernah ada riwayat buta mendadak yang kemudian pulih dengan sendirinya? Artinya, bahwa pada orang tersebut sudah ada cikal bakal terjadinya serangan stroke, entah kapan.

Itu suatu peringatan bahwa suatu waktu orang tersebut punya potensi untuk terserang stroke. Mungkin jenis stroke yang berbeda. Jenis stroke yang lebih berat.

Jadi, ini peringatan untuk perlu mewaspadai. Caranya, dengan meniadakan semua faktor risiko terjadinya serangan stroke, seperti menjinakkan darah tinggi, kencing manis, lemak darah, gemuk, dan tidak lagi melanjutkan kebiasaan merokok.

Melihat gejala TIA memang sangat menyerupai kasus hypertensive encephalopathy di atas. Selain hanya berbeda dalam hal kekhasan TIA, dari CT-Scan juga akan terlihat lokasi gangguan yang terjadi pada otak orang yang tensi darahnya melonjak secara dadakan. Pada TIA, cabang pembuluh darah otak bagian belakang yang terkena (artery cerebri posterior).

Kasus TIA juga tak menyisakan kecacatan apa pun setelah pasien pulih tidak lebih dari sehari. Bedanya dengan kasus darah tinggi di atas, TIA punya makna yang lebih besar. Kalau kasus hypertensive encephalopathy di atas hanya bisa berulang lagi sebagai kasus yang sama, pada TIA mungkin berulang menjadi kasus yang lebih berat.

Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Joomla Templates by Joomlashack