|
Kolom Telematika Memberikan yang Terbaik dan Bermanfaat |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Monday, 30 July 2007 |
|
Jakarta, Di era sekarang ini, telah terjadi perubahan paradigma hubungan konsumen yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan penyedia layanan. Hubungan yang tadinya menjadikan konsumen layaknya obyek, kini tidak lagi. Sekarang saatnya menjadikan konsumen sebagai subyek, bahkan menjadi aset perusahaan. Sebab, jumlah pengguna misalnya untuk operator telekomunikasi, saat ini menentukan nilai dari operator tersebut. Makin banyak pelanggan, maka makin dianggap besar perusahaan tersebut.
Apalagi dengan kompetisi antaroperator yang kian ketat. Tanpa memperhatikan dan menganggap konsumen sebagai aset yang harus dijaga dan diperhatikan kemauannya, jangan berharap adanya loyalitas. Bahkan yang tidak diharapkan adalah adanya gugatan dari konsumen terhadap layanan yang diberikan, yang dapat berujung di pengadilan dan menjatuhkan citra perusahaan. Untuk itu, para penyedia layanan yang terkait dengan TIK mulai saat ini perlu mengedepankan pemberian layanan terbaik dan bermanfaat bagi konsumen.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Kasus Diare di Sukabumi Masih Tinggi |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Friday, 20 July 2007 |
SUKABUMI,- Kasus penyakit diare di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2007 ini masih tinggi. Hingga pekan kedua bulan Juli ini, jumlah penderita diare sudah mencapai 28.981 kasus tanpa ada korban meninggal dunia.
Tenaga pendata Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi Djauhari Muas, Kamis (19/7) mengatakan, kasus diare itu paling banyak terdata di Puskesmas Cisolok dengan 1.447 kasus. Menyusul di tempat berikutnya adalah Puskesmas Cibolangkidul, Kecamatan Cisaat dengan 1.404 kasus dan Puskesmas Nagrak dengan 1.162 kasus.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Tekan Harga Obat dengan Efisiensi Administrasi |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Friday, 20 July 2007 |
Di Indonesia, harga obat cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Padahal harga obat sebenarnya bisa ditekan melalui efisiensi komponen administrasi, sedangkan efesiensi pada komponen produksi akan beresiko terhadap upaya pengendalian mutu.
Demikian menurut Kepala Pusat Studi Farmakalogi Klinik dan Kebijakan Obat Universitas Gajah Mada, Dr Sri Suryawati. "Harga bahan baku juga dapat ditekan dengan menggunakan solusi subsidi dari pemerintah," katanya. Meski begitu, menurutnya subsidi itu sangat tergantung pada kemampuan pemerintah dalam segi finansial, sehingga sebaiknya obat yang disubsisi adalah obat yang esensial saja.
Dalam penjelasannya, harga obat ditentukan oleh beberapa komponen seperti produksi, administrasi, promosi dan komponen distribusi. Komponen produksi berupa harga bahan baku, biaya proses pembuatan, pelabelan, pengemasan dan pengendalian mutu biasanya lebih transparan dibanding komponen harga lain. Sedangkan komponen administrasi seperti biaya pendaftaran obat dan komponen promosi tidak diketahui masyarakat banyak, padahal bisa mencapai 80 persen dari harga obat yang dipasarkan.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Friday, 20 July 2007 |
KEDIRI – Dinas Kesehatan (Dimkes) Kota Kediri akan mencabut izin operasi bagi apotek yang kedapatan menjual obat daftar G secara bebas.
Penegasan tersebut disampaikan Kadinkes dr Gatot Widiantoro untuk menanggapi temuan polisi yang mensinyalir adanya penyimpangan distribusi obat daftar G pascapengungkapan sejuta pil koplo, lusa kemarin. Gatot mengatakan, semua jalur distribusi dan penjualan obat-obatan yang masuk dalam daftar G sudah diatur dan diawasi secara ketat.Sejak keluar dari pabrik untuk didistribusikan ke Perusahaan Besar Farmasi (PBF) atau apotek, selalu disertai surat jalan dan atas sepengetahuan Dinkes.
Demikian juga dengan penjualan obat dari apotek ke konsumen selalu disertai surat keterangan dokter atau resep yang disetujui apoteker bersangkutan.” Semua jalur distribusi obatobatan daftar G sudah diawasi oleh sistem dan prosedur yang sangat ketat. Kecil kemungkinannya bisa bocor atau diperjualbelikan secara bebas,” jelas dr Gatot kepada SINDO,kemarin. Selain jalur tersebut, masih ada jalur distribusi lain melalui rumah sakit. Jalur ini dianggap cukup aman karena mendapat pengawasan langsung dari dokter yang berkompeten.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Monday, 16 July 2007 |
Dengan pengobatan yang teratur, 70 persen pengidap epilepsi bisa disembuhkan.
Linda dan Doni--sebut saja begitu--sudah lama saling mencintai. Dalam hitungan pekan, pasangan yang tampak selalu bahagia ini segera melangsungkan pernikahan. Sayangnya, dua hari menjelang ke pelaminan, Doni terserang epilepsi. Semua anggota keluarga gempar.
Kerabat Linda mulai tarik-ulur tentang rencana perhelatan yang sudah disusun jauh-jauh hari. Ketakutan akan menurunnya penyakit epilepsi kepada anak-anak kelak jadi pertimbangan utama Linda dan keluarga besarnya. Syukurlah, setelah diberikan penjelasan oleh dokter, mereka akhirnya melanjutkan resepsi perkawinan.
"Serangan terjadi karena kelelahan mempersiapkan pernikahan tersebut," ungkap Dr Hermawan Surjadi, ahli saraf pemimpin klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Karmel di Kemanggisan, Jakarta Barat, yang merawat Doni dan memberikan konseling kepada keluarganya.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 82 - 90 dari 186 |