|
Mendadak Lumpuh, Belum Tentu Stroke |
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Wednesday, 04 July 2007 |
|
Oleh: Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum
Suatu pagi, pada jam kerja yang hiruk pikuk, seorang pria paruh baya, belum genap 50 tahun, mendadak lemas tungkainya saat hendak turun dari bus jemputan, di depan halaman kantornya. Dimulai dengan rasa pening hebat, penglihatan kabar, ia pun jatuh tersungkur.
Tengah terserang stroke kah dia?
Mungkin. Bisa jadi juga bukan. Sepintas memang menyerupai gejala serangan stroke. Ia pun segera diangkut menuju rumah sakit. Masih tampak seperti kebingungan. Tetap tak bisa berdiri sendiri. Ia dibopong memasuki ruang gawat darurat.
Tensinya saat itu 210/120. Luar biasa tinggi. Pasti tensinya lebih tinggi lagi pada saat ia masih di atas bus, dan serangan mendadak lemas itu terjadi. Dokter menemukan adanya gejala mati rasa sesisi tubuh, tampak sedikit kelainan di retina mata saat dilakukan pemeriksaan teropong mata (fundus copy).
Observasi dilakukan terus selama perawatan di rumah sakit. Melihat tensi darah setinggi itu, dugaan tentu ini sebuah serangan stroke. Semua diperiksa, termasuk untuk memastikan dugaan adanya stroke, kendati tidak spesifik benar kalau itu stroke. Kalaupun itu stroke, tergolong jenis yang ringan saja.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Depresi Tingkatkan Risiko Stroke |
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Wednesday, 04 July 2007 |
|
Stroke bukanlah penyakit baru di Indonesia, bahkan penyakit ini telah menduduki peringkat ketiga penyebab kematian utama.
Stroke adalah gangguan fungsi otak karena terganggunya suplai darah ke otak. Jika aliran darah terhambat lebih dari beberapa detik, sel-sel otak di daerah yang tak teraliri darah akan rusak secara permanen, bahkan menyebabkan kematian.
Untuk mencegah serangan stroke, ada sejumlah faktor risiko yang perlu dikontrol, antara lain hipertensi, kebiasaan merokok, diabetes dan obesitas.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang dengan gejala depresi juga memiliki risiko yang tinggi terkena stroke dan stroke ringan. Tapi ini hanya terjadi pada orang berusia kurang dari 65 tahun.
Kesimpulan tersebut dihasilkan lewat pengamatan kesehatan yang dilakukan Dr.Margareth Kelly-Hayes dan tim periset dari Boston University terhadap 4120 responden di Framingham Heart Study selama 8 tahun.
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Stroke Juga Termasuk Penyakit Keturunan |
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Wednesday, 04 July 2007 |
|
Penyakit stroke ternyata termasuk dalam kelompok penyakit yang diturunkan secara genetik. Hal itu berarti kemungkinan seseorang terkena penyakit stroke akan meningkat jika ada kakak atau adik yang menderita penyakit yang disebabkan oleh sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak itu.
Ahli saraf di Lampung, dr.Ruth Mariva, Sp.S, menjelaskan penyakit stroke dapat diturunkan secara genetik melalui "autosomal dominan" akibat mutasi gen pada kromosom 19 yang dikenal dengan dengan penyakit CADASIL (Cerebral Autosomal Dominant Arteriopathy with Subcortical Infarcts and Leukoencephalopathy). Menurut dia, kelainan terjadi pada dinding pembuluh darah kecil, terutama di otak yang sudah terjadi sejak usia dewasa
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 July 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 53 - 56 dari 120 |